Senin, 20 Februari 2017

KAMU, YANG PERNAH AKU PERJUANGKAN

pada hari lalu, aku yang setelah hujan berlalu pergi menemui mu. di sebuah cafe dengan nuansa romantis. dikelilingi lilin kecil yang hampir redup. kita berbicara tentang banyak hal. tentang kesengsaraanmu di tinggal orang yang tercinta. tentang kebutuhanmu yang harus tercukupi.

aku hanya terdiam iba melihat semua yang terjadi padamu. aku mencoba menghapus air mata yang jatuh perlahan dari kelopak mata cantikmu. aku mencoba menutupi kesedihanmu dengan kasih yang aku punya. namun kau tetap saja menangis merdu.

dan hari itupun hujan semakin deras menerpa bumi yang terdiam. suara gemercik air terlihat sangat jelas. wajah merah merona setelah air turun mengaliri pipi terlihat begitu mengharukan. mata indahmu berbinar merah.

sudahlah, hentikan ucapku. aku yang sesungguhnya mencintaimu belum berani mengatakan yang sesungguhnya. aku tahu kamu perempuan sengsara pada masanya. aku coba memenuhi semua keinginanmu, dan itu terlaksana.

namun setelah masa itu lewat dan terlewati. kamu begitu sangat melupakan hal dahulu yang pernah aku perjuangkan. kau memunafikkan semua yang kamu pinta untuk aku lakukan. kau mendustakan segala yang pernah kita jalin. janji-janji dahulu hanya sebagai angan yang tak terpenuh. kini kau tusukan duri tajam dalam hati perihal rasa. kau campakan perihal khayal yang terukir manis, dan kau injakkan kaki untuk tinggalkan segalanya.

aku hanya terseyum sedih melihat tingkah yang keterlaluan ini. cukup mengerti tentang mu dan perasaanmu. aku hanya ingin kau berhenti dengan langkahmu. cukupi semua skenariomu. karena cinta pada dasarnya bukan sebuah mainan, tapi cinta adalah sebuah keseriusan yang terencana.


ES Wiranata Sukardi
21/02/2017
Sebut Saja Mas ER

Tidak ada komentar:

Posting Komentar